Siak
Doa Ibu di Kursi Roda, Senja yang Menguatkan Seorang Bupati Siak
Bupati Afni saat jalan sore bersama ibunya bertemu pedagang bersepeda. (Foto Istimewa)
SIAK (ruangdisabilitas.com) – Sebelum senja turun perlahan di Kota Siak. Langit memerah, angin sore menyisir pelataran di rumah yang penuh kenangan. Di halaman pavling blok itulah, seorang ibu duduk di kursi roda, diam, tenang, dengan wajah yang menyimpan keikhlasan panjang seorang perempuan yang telah menghabiskan hidupnya untuk doa.
Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, melangkah mendekat. Bukan sebagai kepala daerah, bukan pula sebagai pejabat publik. Sore itu, ia hanyalah seorang anak.
Ketika hendak mengajak ibunya berjalan sore, mata Afni tertuju pada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Kaki kanan sang ibu tampak membengkak. Pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
“Kenapa kaki Ibu bengkak?” tanyanya lirih, seolah takut mendengar jawabannya sendiri.
Sang ibu tersenyum kecil. Tenang.
“Sudah biasa,” katanya singkat, seakan ingin menenangkan, bukan menjelaskan.
Afni terdiam. Pikirannya melayang pada rencana besar ibunya, ibadah umroh. “Bagaimana nanti Ibu mau umroh?” tanyanya lagi, dengan suara yang tak lagi utuh.
“Tak apa-apa,” jawab ibu. Sederhana. Ikhlas. Seikhlas doa yang tak pernah putus dari bibirnya.
Tanggal 3 Februari 2026, sang ibu akan berangkat ke Tanah Suci. Afni pun mengabarkan satu hal yang lebih berat untuk diucapkan. Dia tak bisa mengantar ke bandara. Tugas negara memanggilnya ke Jakarta.
“Jadi awak tak bisa ngantar Ibu ke bandara, tak apa-apa?” tanya Afni, kali ini dengan mata yang mulai berkaca.
“Tak apa-apa,” jawab ibu lagi.
“Demi kepentingan masyarakat.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghunjam dalam. Seorang ibu yang merelakan momen perpisahan dengan anaknya, demi pengabdian yang lebih besar.
Afni menggenggam harapan. “Doakan awak bisa bertemu Pak Prabowo ya, Ibu.”
Sang ibu menatapnya lembut. “Ibu tiap malam baca Al-Qur’an lima juz. Tahajud. Doakan anak-anak,” ujarnya.
“Itulah kekuatan kita,” jawab Afni, sambil mulai mendorong kursi roda ibunya, menyusuri jalan sore.
Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan seorang ibu penjual kebutuhan rumah tangga. Sepeda tua, keranjang penuh dagangan, kaki yang terus mengayuh melawan letih. Perempuan itu tak tahu, orang yang berdiri di depannya adalah Bupati Siak.
Afni bertanya pelan, sambil mengisyaratkan tangan menadah, “Ibu tak pernah begitu?” maksudnya meminta-minta.
“Tak pernah,” jawab si pedagang.
Afni tersenyum. “Bagus. Lebih terhormat berjualan daripada meminta.”
Ia pun membeli dagangan ibu itu. Bukan sekadar transaksi, tapi penghormatan pada martabat.
Langkah sore berlanjut. Mereka bertemu para santri. Afni bercerita tentang ibunya yang akan umroh. Lalu ia bertanya, “Ada pesan, Ibu?”
Sang ibu menghela napas, lalu berkata tegas namun penuh kasih, “Jangan makan uang haram. Yang penting rakyat diperhatikan. Ibu tak rela anak ibu makan duit haram.”
Pesan itu bersemai di udara senja, jujur, keras, dan suci. Sebuah amanah yang lebih berat dari jabatan apapun. Matahari kian tenggelam. Senja menutup hari. Afni terus mendorong kursi roda ibunya, kembali ke rumah. Tanpa sorak, tanpa pengawal.
Hanya seorang anak, seorang ibu, dan doa yang tak pernah berhenti berjalan. Di kursi roda itu, tersimpan kekuatan seorang pemimpin. Di doa seorang ibu, lahir keberanian untuk tetap jujur, terbuka, meski berada jalan sunyi. (MNA/SP)








