- Home
- Info Kesehatan
- Kasihan, 28 Pelajar di Inhil Riau Diduga Keracunan, Sampel Makanan Diperiksa Laboratorium dan Dinas Kesehatan
Indragiri Hiir, Riau
Kasihan, 28 Pelajar di Inhil Riau Diduga Keracunan, Sampel Makanan Diperiksa Laboratorium dan Dinas Kesehatan
Insiden ini terjadi usai mereka mengonsumsi hidangan yang diduga berasal dari Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). ((Foto Istimewa/Int))
INHIL (ruangdisabilitas.com) – Memprihatinkan. Sebanyak 28 pelajar di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, dilaporkan mengalami dugaan keracunan makanan pada Jumat lalu. Seluruh korban telah dilarikan ke RSUD Puri Husada Tembilahan untuk mendapatkan perawatan medis
Direktur RSUD Puri Husada, dr Rahmad Susanto, menyampaikan bahwa para korban berasal dari beberapa sekolah di Tembilahan, yaitu SD 032 sebanyak 18 orang, SD 008 lima orang, SD Muhammadiyah satu orang, SMA Negeri 1 satu orang, TK Faturrahman satu orang, serta satu orang lainnya merupakan anggota keluarga petugas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Awalnya, sebanyak 22 orang siswa itu dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada Tembilahan karena mengalami sakit perut dan pusing.
Siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 032 Tembilahan Jalan Swarna Bumi itu harus mendapatkan perawatan medis pada Jumat (22/8/2025).
Insiden ini terjadi usai mereka mengonsumsi hidangan yang diduga berasal dari Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurutnya, para pasien datang dengan gejala seragam, antara lain muntah-muntah, sakit perut, dan pusing.
“Gejala yang dominan adalah muntah. Hingga saat ini sudah ada 2 orang yang dirawat intensif di RSUD. Sementara lainnya masih dalam observasi sesuai keluhan masing-masing,” ungkap dr Rahmat.
Selain di RSUD PH, tercatat 4 orang korban dirawat di RS 3M, dan 2 orang lainnya ditangani di Puskesmas Gajah Mada Tembilahan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir menegaskan bahwa kondisi pasien masih dalam penanganan medis dan tidak ada yang mengkhawatirkan.
“Kalau dilihat dari gejala, InsyaAllah dapat ditangani. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional, di mana OPD terkait seperti Dinas Kesehatan turut dilibatkan,” jelasnya.
Belum diketahui pasti penyebab siswa SD tersebut keracunan. Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan penelusuran terkait sumber makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan massal ini.
“Alhamdulillah, kondisi pasien sudah mulai membaik. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera dipulangkan,” ujar Rahmad
Menanggapi kejadian tersebut, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kembang bersama Yayasan Kawah Insan Cendikia langsung menjenguk para korban, didampingi aparat Polres dan Kodim setempat.
Penanggung Jawab Dapur SPPG Kembang, Nurmila, menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak dan menyatakan pihaknya menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan untuk mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.
“Kami belum bisa menyimpulkan bahan apa yang menyebabkan dugaan keracunan sebelum ada hasil laboratorium,” kata Nurmila.
Ia menegaskan bahwa proses produksi makanan dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dengan pengawasan ketat selama 24 jam. Dapur SPPG Kembang memproduksi sekitar 2.200 porsi makanan setiap hari untuk sembilan sekolah.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kawah Insan Cendikia sekaligus mitra Badan Gizi Nasional (BGN), Muhammad Guntur, menyatakan bahwa pihaknya bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya perawatan korban.
“Kami pastikan seluruh biaya perawatan yang terdampak ditanggung sampai sembuh,” tegas Guntur.
Pihak terkait menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang. (Muthia NA/SP)








