Kampar, Riau
Bersaing di Tingkat Provinsi, Sembilan Pustaka Desa di Kampar Dinyatakan Terbaik
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar dalam mendorong tumbuhnya budaya membaca. Serta penguatan perpustakaan berbasis inklusi sosial di tengah masyarakat. (HUMAS PEMKAN KAMPAR/FS)
KAMPAR (ruangdisabilitas.com) – Sebanyak sembilan perpustakaan desa mengikuti penilaian yang dilakukan Tim Penilai Pustaka Desa Kabupaten Kampar. Ini menjadi tahapan untuk menentukan wakil terbaik menuju tingkat Provinsi Riau hingga nasional.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar dalam mendorong tumbuhnya budaya membaca. Serta penguatan perpustakaan berbasis inklusi sosial di tengah masyarakat.
Khalidah selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Kampar, melalui Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Perpustakaan, Riska Jonita menyampaikan bahwa perpustakaan desa memiliki fungsi strategis dalam membangun desa yang inovatif, kreatif, dan mandiri.
“Perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat edukasi, pusat pengetahuan, sekaligus ruang interaksi masyarakat. Melalui konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), perpustakaan harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Riska.
Ia juga menyebut, terpilihnya Desa Rumbio sebagai salah satu peserta penilaian menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Kampar. Ia berharap perpustakaan desa tersebut mampu tampil maksimal dan menjadi yang terbaik pada tahapan selanjutnya.
Adapun sembilan perpustakaan desa yang mengikuti penilaian yakni Desa Senama Nenek (Kecamatan Tapung Hulu), Desa Bukit Kemuning (Kecamatan Tapung Hulu), Desa Pulau Terap (Kecamatan Kuok), Desa Pulau Gadang (Kecamatan XIII Koto Kampar), Desa Laboy Jaya (Kecamatan Bangkinang), Desa Sari Galuh (Kecamatan Tapung), Desa Bukit Kratai (Kecamatan Rumbio Jaya), Desa Rumbio (Kecamatan Kampar), serta Desa Karya Bakti (Kecamatan Kampar Kiri Tengah).
Riska menambahkan, keberadaan pustaka desa diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat, khususnya anak-anak terhadap penggunaan telepon genggam dan dampak negatif permainan daring.
“Kita harus memiliki persepsi yang sama bahwa perpustakaan dapat menjadi sarana pendalaman numerasi dan literasi. Pustaka juga harus menjadi taman belajar dan tempat yang menyenangkan bagi anak-anak,” tambahnya.
Sementara itu, Bambang sebagai Ketua Tim Penilai menegaskan bahwa perpustakaan desa yang ideal merupakan salah satu indikator penting dalam mewujudkan desa mandiri.
Menurutnya, perpustakaan harus mampu menjadi promotor lahirnya ide-ide kreatif di tengah masyarakat.
“Pustaka sebenarnya sederhana, yang terpenting adalah inovasi. Bagaimana perpustakaan dikemas menjadi lebih menarik, nyaman, dan diminati masyarakat sehingga mampu melahirkan kreativitas baru serta meningkatkan minat kunjung masyarakat,” ungkap Bambang.
Ia juga menekankan, perpustakaan harus terus berkembang menjadi pusat pengetahuan sekaligus pusat aktivitas positif masyarakat desa.
Sedangkan Sekretaris Desa Rumbio, Zulfadri, yang mewakili Kepala Desa Rumbio Andi Putra, didampingi pengelola pustaka Senda Mela, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas ditunjuknya Pustaka Soboghia sebagai peserta penilaian tingkat Kabupaten Kampar.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Semoga Pustaka Soboghia Desa Rumbio dapat memperoleh hasil terbaik dan nantinya mampu menjadi wakil Kabupaten Kampar serta Provinsi Riau di tingkat nasional,” harapnya. (MNZ/ZED)








