- Home
- Informasi Publik
- Parkir Penuhi Jalan Depan SMAN 1, SMPN 1 dan 5 Pekanbaru Mulai Dikeluhkan Warga
Pekanbaru
Parkir Penuhi Jalan Depan SMAN 1, SMPN 1 dan 5 Pekanbaru Mulai Dikeluhkan Warga
Anggota Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru Nofrizal (Dok DPRD Pekanbaru)
PEKANBARU (ruangdisabilitas.com) – Usai dilebarkan, ternyata persoalan kemacetan di ruas jalan utama sekolah belum juga teratasi. Parkir kendaraan di Jalan Sultan Syarif Kasim, tepatnya di depan SMA Negeri 1 Pekanbaru, kembali dikeluhkan para pengendara. Meski ruas jalan tersebut tergolong lebar, aktivitas parkir orang tua siswa saat jam penjemputan kerap membuat arus lalu lintas tersendat.
Kondisi ini diperparah dengan keberadaan beberapa sekolah di kawasan tersebut, seperti SMA Negeri 1 Pekanbaru, SMP Negeri 1 Pekanbaru, dan SMP Negeri 5 Pekanbaru.
Setiap jam pulang sekolah, orang tua siswa memadati badan jalan untuk menjemput anak-anak mereka, bahkan parkir hingga berlapis-lapis.
Menanggapi itu, Anggota Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru Nofrizal menyebut penjemputan anak sekolah memang bertujuan memberikan kenyamanan. Namun, jika seluruh orang tua menggunakan kendaraan roda empat dan parkir di badan jalan, kemacetan tentu tidak bisa dihindari.
“Kalau semua orang tua jemput pakai mobil, pasti akan terjadi rebutan parkir. Jangankan di Jalan Sultan Syarif Kasim, di Jalan Ahmad Yani saja yang ada tempat les, banyak orang tua yang juga parkir di tepi jalan dan itu juga menyebabkan macet,” ujar Nofrizal, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengurai kemacetan adalah dengan menyiagakan petugas di lokasi tersebut. Ia menilai kondisi itu merupakan hal yang lumrah terjadi di kawasan dengan aktivitas penjemputan siswa yang tinggi.
“Tidak ada salahnya ada petugas yang standby, kalau perlu dipiketkan secara bergiliran. Daripada nanti menimbulkan kecelakaan, lebih baik kita antisipasi sejak awal,” tegasnya.
Ia juga menilai, jika pengaturan lalu lintas dibebankan sepenuhnya kepada pihak sekolah, hal itu akan menjadi beban yang cukup berat. Menurutnya, persoalan kemacetan merupakan masalah bersama antara masyarakat dan pemerintah.
“Semakin besar kota nya, tentu butuh lebih banyak petugas. Semakin kecil kotanya, tentu petugasnya lebih sedikit. Jadi masalah masyarakat adalah juga masalah pemerintah,” tambahnya.
Nofrizal turut menyarankan agar orang tua kembali memanfaatkan area parkir di pinggir Masjid An-Nur, atau di seberang sekolah, seperti yang pernah diterapkan sebelumnya. Dengan demikian, siswa bisa menyeberang menuju kendaraan orang tua, sehingga badan jalan tetap bisa digunakan pengendara lain.
“Sekarang ini orang tua pengen cepat dan dekat ke gerbang sekolah. Akhirnya kepadatan tidak terkendali, sampai parkir lima lapis. Padahal kalau diatur, paling dua lapis saja,” jelasnya.
Ia optimis, jika pengaturan dilakukan secara konsisten selama satu bulan dengan kehadiran petugas, masyarakat akan terbiasa tertib. Selain mengurai kemacetan, keberadaan petugas juga penting untuk menjaga keselamatan anak-anak saat menyeberang jalan.
“Kalau sudah terkondisi dengan baik, kendaraan bisa lalu lalang dan anak-anak pun lebih aman. Intinya memang perlu petugas untuk mengatur dan menjaga keselamatan,” pungkasnya. (MNA/SP)








