SEPAKAT PERKUAT SINERGI STRATEGIS

Kemensos dan Tokoh Agama Optimalkan Layanan dan Pemberdayaan Disabilitas

Nasional Jumat, 19 September 2025 - 21:32 WIB  |    Reporter : Maisha NZ   Redaktur : Fithriady Syam  
Kemensos dan Tokoh Agama Optimalkan Layanan dan Pemberdayaan Disabilitas

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat menghadiri Diskusi Terpumpun Sosialisasi Fiqih Disabilitas Psikososial di Gedung Cawang Kencana Kemensos, Jakarta Timur. (Dok Kemensos)

JAKARTA (ruangdisabilitas.com) – Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Komisi Nasional Disabilitas (KND) dan para tokoh lintas agama sepakat memperkuat sinergi strategis mewujudkan layanan disabilitas yang menyeluruh mulai dari rehabilitasi terpusat, menghadirkan lingkungan ramah disabilitas, hingga melakukan edukasi kepada masyarakat terkait penyandang disabilitas.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang biasa disapa Gus Ipul menjelaskan ada tiga hal utama yang harus diwujudkan dalam pengoptimalan layanan disabilitas, yakni pencegahan mengatasi hambatan melalui penanganan terstruktur; perlindungan, jaminan sosial dan rehabilitasi; serta pemberdayaan bagi disabilitas. Ke depan, diharapkan layanan tersebut dilakukan secara terpadu melalui layanan yang terpusat.

“Kita ingin ini menyeluruh, bagaimana pencegahannya, bagaimana perlindungannya, bagaimana rehabnya,” ujar Gus Ipul, di Gedung Cawang Kencana Kemensos, Jakarta Timur, dikutip Tempo, Rabu (17/9/2025).

Pada kesempatan ini, Gus Ipul menekankan pentingnya pedoman Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dalam upaya memberikan pelayanan untuk disabilitas. “Ini memang perintah Presiden, namanya Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, jadi penyandang disabilitas itu sudah masuk dalam desil, perangkingan. Jadi ada penyandang disabilitas yang kaya, memang ada yang cukup secara ekonomi, ada yang mungkin juga masih kekurangan gitu, nah ini yang mungkin nanti menjadi pertimbangan kita dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Berdasarkan DTSEN terdapat lebih dari 15 juta penyandang disabilitas yang terbagi dalam desil 1 hingga 10 dan dikelompokan sesuai dengan jenis kedisabilitasannya seperti disabilitas fisik, disabilitas mental, disabilitas intelektual, disabilitas sensorik, dan disabilitas ganda.

“Ada fisik, mental, intelektual, sensorik rungu, sensorik wicara, sensorik netra, ganda atau multi, nah ini sudah keliatan di sini, semuanya kira-kira 15 juta ini totalnya, yang semua sudah terbagi dalam desil,” katanya.

Ia mengatakan, dengan adanya pembagian data sesuai desil, akan lebih mudah menentukan sasaran dalam memberikan pelayanan. “Nah ini datanya sudah mulai kita konsolidasi, kita rapikan, dan nanti tentu pada akhirnya kita fokus pada mereka yang di desil 1, 2, 3, dan 4, memang ini perlu kita perjelas dalam rangka layanan ini,” ujar Gus Ipul.

Ia mengajak para tokoh agama yang hadir untuk turut serta terlibat dalam edukasi atau penyadaran masyarakat tentang pelayanan penyandang disabilitas melalui forum-forum keagamaan. “Sehingga agama terlibat gitu, bukan hanya KND, tapi semua terlibat dalam melayani penyandang disabilitas,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Komisioner Komnas Perempuan Bahrul Fuad yang akrab disapa Cak Fu menyampaikan penanganan disabilitas tidak hanya berfokus pada pengembangan internal penyandangan disabilitas saja, namun harus memperhatikan juga faktor eksternalnya.

“Yang sebenarnya menjadi persoalan yang dihadapi oleh teman-teman disabilitas itu justru ada di luarnya, yaitu lingkungan yang tidak aksesibel dan juga sikap atau cara pandang masyarakat,” kata Cak Fu.

Ia berharap ke depan, penanganan penyandang disabilitas bisa lebih memperhatikan faktor eksternal. “Kami berharap bahwa ada sedikit cara penanganan yang berbeda, melihat disabilitas ini yaitu dengan lebih masif melakukan edukasi publik, edukasi terhadap masyarakat bagaimana mereka memandang dan memperlakukan saudara-saudara kita, kami ini yang disabilitas.” (MNZ/SP)

Laporan : Maisha NZ
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya