- Home
- Pendidikan
- Ciptakan Lingkungan Aman dan Inklusif Anak Riau dari Kekerasan Digital
Diskusi RRI Pekanbaru
Ciptakan Lingkungan Aman dan Inklusif Anak Riau dari Kekerasan Digital
Ketua Rumah Perempuan dan Anak, Utari Nelviandi (Kiri) dan Kabid Litbang Data Rumah Perempuan dan Anak Provinsi Riau sekaligus Koordinator Kombel Guru Ibnu Qoyyim, Meta Ratnasari (kanan) saat mengisi Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Pekanbaru (Dok RRI Pekanbaru)
PEKANBARU (ruangdisabilitas.com) - Dalam rangka mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045, pendekatan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (Gedsi) perlu diterapkan dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Anak-anak harus dilindungi dan dibimbing dengan baik.
Ketua Rumah Perempuan dan Anak, Utari Nelviandi serta Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Data Rumah Perempuan dan Anak Provinsi Riau sekaligus Koordinator Komunitas Belajar Guru Ibnu Qoyyim, Meta Ratnasari sepakat bahwa anak-anak perlu dibina karakternya dan dilindungi dari berbagai bentuk kekerasan, baik secara langsung maupun melalui media digital.
Utari Nelviandi menegaskan bahwa perlindungan anak sudah diatur dalam undang-undang, anak berhak untuk tumbuh, belajar, dan berpartisipasi tanpa diskriminasi, termasuk anak yang menyandang disabilitas, gedsi hadir agar semua anak bisa merasa aman dan mendapat perlakuan sebagaimana mestinya.
“Anak-anak zaman sekarang bisa saja di kamar tertutup, tapi tetap terhubung ke dunia luar lewat hp. Kalau tidak diawasi, ini bisa membahayakan mereka. Maka, perlindungan anak di era digital sangat penting," ujar Utari Nelviandi beberapa waktu lalu di siaran Pro 4 RRI Pekanbaru.
Sementara itu, Meta Ratnasari menyoroti pentingnya pembentukan karakter anak. Ia menjelaskan bahwa di era digital, anak-anak mudah terpapar informasi negatif, sehingga bimbingan dari guru dan orang tua sangat dibutuhkan.
“karakter anak harus dibentuk sejak dini. Mereka harus diajarkan jujur, mandiri, dan bisa menghargai orang lain. Kalau tidak dibina, mereka bisa mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif dari media sosial,” ujar Meta Ratnasari.
Selain itu, mereka menekankan bahwa perundungan (bullying) masih sering terjadi, baik secara langsung maupun secara daring. Oleh karena itu, pihak sekolah harus punya langkah pencegahan, dan anak-anak diajarkan untuk melapor jika menjadi korban.
Dari data Gedsi, saat ini kekerasan terhadap anak di Riau masih tinggi. Hal ini menjadi tantangan bersama bagi pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi semua anak. (Maisha NZ/RRI)








