- Home
- Pendidikan
- Nur Ahmad Jadi Disabilitas Akibat Tragedi Pesantren Al Khoziny, Ini Saran Psikolog
Sidoarjo, Jawa Timur
Nur Ahmad Jadi Disabilitas Akibat Tragedi Pesantren Al Khoziny, Ini Saran Psikolog
Dengan amputasi ini, Nur Ahmad kini menjadi penyandang disabilitas fisik. Dia bukan satu-satunya korban selamat yang harus diamputasi dan kini menjadi penyandang disabilitas. (Foto Istimewa)
JAWA TIMUR (ruangdisabilitas.com) - Nur Ahmad harus merelakan salah satu lengannya. Dia diamputasi guna memudahkan proses evakuasi yang tak lain adalah untuk menyelamatkan nyawanya. Remaja 14 tahun itu adalah salah satu korban tragedi runtuhnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Dengan amputasi ini, Nur Ahmad kini menjadi penyandang disabilitas fisik. Dia bukan satu-satunya korban selamat yang harus diamputasi dan kini menjadi penyandang disabilitas.
Menurut psikolog klinis, Analisa Widyaningrum, menjadi penyandang disabilitas baru alias bukan bawaan lahir adalah hal yang tak mudah.
“Disabilitas yang terjadi pada anak bukan sejak lahir itu cukup krusial. Bayangin aja, dia tiba-tiba enggak punya kemandirian untuk melakukan aktivitas secara fisik atau kemandirian untuk menyelesaikan tugas sehari-hari, saya rasa pemulihannya, terutama untuk korban difabel memang butuh secara komprehensif,” kata perempuan yang akrab disapa Ana kepada Liputan6.com di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Pemulihan komprehensif artinya tidak hanya fokus pada terapi fisik tetapi juga psikologis.
“Tidak hanya terapi secara fisik supaya dia bisa mampu mandiri melakukan aktivitasnya, tapi juga secara psikologis supaya dia punya kepercayaan diri lagi dan bisa melewati fase-fase dukanya untuk bisa menerima.”
“Itu kan enggak mudah, di usia masih anak belum dewasa, dia harus bisa menerima sampai akhirnya dia bisa melanjutkan hidupnya untuk mencapai apa yang dia cita-citakan nanti,” kata Ana.
Nur Ahmad adalah satu dari 104 korban selamat dari tragedi runtuhnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny.
Menurut Ana, peristiwa bencana atau musibah seperti terjadi pada anak-anak santri itu bisa membawa dampak psikis seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
“Saya turut berduka atas kejadian di pesantren tersebut dan ada satu kekhawatiran ketika trauma terhadap disaster (bencana) itu terjadi PTSD,” katanya.
Menurutnya, PTSD mengarah pada ketakutan berlebih sampai mengganggu aktivitas yang membuat anak jadi sulit melakukan kegiatan belajar. PTSD dengan gejala ekstrem bisa membuat anak sulit tidur, menggigil ketakutan, dan sebagainya.
“Jadi saran saya memang butuh pendampingan psikologis untuk para korban yang tertimpa musibah di pesantren tersebut.”
Jika tidak ditangani dengan baik, sambung Ana, maka PTSD ini bisa berdampak jangka panjang pada anak.
“Kalau tidak tertangani dengan baik, tentunya PTSD ini akan menjadi trauma berkepanjangan dan biasanya akan muncul ketakutan-ketakutan, fobia ruangan gelap, fobia ruangan tertutup. Semoga sih bisa tertangani dengan baik, kalau korban trauma ada terapinya supaya memulihkan.”
“Dia tidak akan lupa kejadian tersebut, tapi dia bisa handle dirinya pada saat ketakutan itu muncul itu yang harusnya dilatih pada anak korban bencana di pesantren tersebut,” tambahnya.
Meski begitu, terapi dari psikolog tidak bisa berdiri sendiri, perlu peran orangtua dalam mewujudkannya.
“Menurut saya terapi itu tidak bisa berdiri sendiri, enggak bisa orangtua saja, atau anak saja, tapi harus dua-duanya, support system dalam lingkungan anak itu menjadi salah satu penentu keberhasilan terapi,” katanya. (MNZ/INT)








