- Home
- Pendidikan
- Menarik Cara Disabilitas Rungu Belajar Ngaji, Dewandik Riau Kunjungi SLBN Pembina Pekanbaru
Provinsi Riau
Menarik Cara Disabilitas Rungu Belajar Ngaji, Dewandik Riau Kunjungi SLBN Pembina Pekanbaru
Anggota Dewandik Riau H Fithriady Syam, saat melihat praktek belajar membaca al quran dengan menggunakan isyarat jari-jari tangan, sambil menunjuk buku panduan mengaji Iqra (Dok Dewandik Riau)
PEKANBARU (ruangdisabilitas.com) – Dengan hanya menggunakan bahasa isyarat, 80 siswa disabilitas rungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Pekanbaru terlihat semangat dan ceria membaca buku pelajaran Iqra. Jika disabilitas netra menggunakan al-quran braille, bagi penyandang rungu ini, mereka belajar dengan menggunakan isyarat jari-jari tangan, sambil menunjuk buku panduan mengaji Iqra.
‘’Mereka belajar dua kali sepekan. Terlihat di wajah mereka keceriaan setiap belajar mengaji. Inilah yang membuat kami juga bersemangat,’’ sebut Elfayanti, Kepala Jurusan (Kajur) B Tuna Rungu SLBN Pembina Pekanbaru kepada anggota Dewan Pendidikan (Dewandik) Provinsi Riau H Fithriady Syam yang berkunjung ke sekolah ini, Rabu (16/10/2025).
Menariknya, cara belajar tidak di ruang kelas, tapi saling membaur dalam aula di sekolah ini. ‘’Saling membantu. Macam anak-anak mengaji di masjid. Saling menyimak dengan isyarat jari,’’ tambah dia lagi.
Tak ada suara ribut yang terjadi. Mereka dengan 6-7 pengajar terlihat bersemangat. Salin bergantian, belajar dengan cara mereka. Bagi sebahagian orang awam, cara ini agak terasa unik dan sulit.
Selain melihat praktek mengaji itu, Dewandik Riau juga melihat proses kegiatan belajar di SLBN Pembina ini yang memang agak beda dengan beberapa bulan sebelumnya. Sebab, baru beberapa pekan lalu memulai kelas full day. Kepsek Moelyo Eko Suseno mengatakan pihaknya sudah memulai tahapan belajar yang baru.
‘’Ini sebuah kemajuan. Bagi siswa mereka senang-senang saja. Cuma ada sebahagian orangtua yang agak kaget. Sebab mereka harus mengantar makanan atau bekal buat anak mereka. Sekarang siswa SD pulang sekitar jam 11.00 WIB, SMP pulang jam 12 WIB dan SMA pukul 15.00 WIB,’’ ujarnya.
Saat ditanyai kesiapan para guru dalam menjalankan program full day school ini, Waka Kurikulum El Rumbi menyebut ini sudah dipersiapkan sejak lama. ‘’Bagi kami ini sudah menjadi keharusan. Dengan pola ini, waktu mengajar 37,5 jam per minggu bisa dilaksanakan. Siswa bisa agak relatif lama mendapatkan pembelajaran. Orangtua memang harus menyesuaikan jadwal mereka. Sekolah juga ada ruang tunggu yang disiapkan,’’ lanjutnya sambil berkeliling di SLBN ini.
Dalam pada itu, Fithriady Syam menyebut kondisi pembelajaran di sekolah ini sudah berjalan baik. Hal ini terlihat dari pola pengajaran yang dilaksanakan setap harinya. Salah satu yang membuat dia kagum adalah semangat yang dijalani siswa dalam belajar mengaji dan menimba ilmu agama.
‘’Kita sebelumnya membayangkan disabilitas netra saja yang bisa membaca Al quran. Tapi siswa disabilitas rungu ini juga bisa. Belajar dengan pola tersendiri dalam membaca al quran. Layaknya mengaji di rumah ibadah atau MDA. Mereka saling membantu satu sama lainnya,’’ katanya. (MNZ)








