Provinsi Riau

Pertama di Riau, SLB Melati Rumbai Jadi Pilot Program PLTS di Sekolah

Pendidikan Jumat, 24 Oktober 2025 - 10:16 WIB  |    Reporter : Maisha NZ   Redaktur : Fithriady Syam  
Pertama di Riau, SLB Melati Rumbai Jadi Pilot Program PLTS di Sekolah

Anggota Dewan Penddikan Riau H Fithriady Syam kunjungi PLTS berkapasitas 3,7 KWP dengan penyimpanan energi 5 kWh tersebut diperkirakan mampu menghasilkan listrik hingga 4.691 kWh per tahun dan membuat hemat biaya listrik SLB Melati Rumbai.. (Dok Dewandik Riau)

PEKANBARU (ruangdisabilitas.com) – Pasca mendapatkan program CSR atau TJSL dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hybrid di Sekolah Luar Biasa (SLB) Melati Rumbai Pekanbaru. Dewan Pendidikan (Dewandik) Riau mengunjungi sekolah penyandang disabilitas tersebut, Rabu (22/10/2025).

Hal ini dilakukan guna melihat program energi bersih yang dijalankan di sekolah ini atas bantuan perusahaan  minyak tersebut. Anggota Dewandik Riau H Fithriady Syam berkesempatan melihat secara langsung fasilitas dan kemanfaatan yang diperoleh SLB ini.

‘’Ini sebuah terobosan baru. Sekolah bisa menerapkan energi bersih. Bisa menghemat operasional sekolah pula, terutama yang selama ini mengunakan fasilitas PLN. Setelah melihat ini, kita berharap akan banyak satuan pendidikan di Riau yang bisa mendapatkan fasilitas dan menjalankan program ini,’’ katanya disela-sela kunjungan tersebut.

Lebih jauh, wartawan senior Riau ini juga melihat praktik langsung bagi pembelajaran siswa. Ternyata praktik belajar kini lebih nyaman dengan penerangan yang cukup disetiap lokal.

‘’Kita melihat secara langsung belajar para siswa disabilitas ini. Terlihat mereka ceria dan hepi. Ruangan kelas terlihat lebih terang, bahkan bisa juga menggunakan penyejuk ruangan,’’ tambahnya.

Ketua Yayasan SLB Melati Rumbai H Muhammad Jakfar dan Kepsek Hj Zaimatul Azma SSos juga mengatakan hal yang sama.

‘’Kami seperti mendapat rezeki secara tiba-tiba. Sumbangan PHR ini sangat membantu dalam mengatasi biaya operasional sekolah, terutama biaya listrik. Kami bisa menghemat 50% persen lebih. Memang belum bisa mengatasi secera keseluruhan. Masih mengunakan PLN, jika daya baterai PLTS berkurang,’’ katanya.

Dia juga menjelaskan bagaimana proses dalam mendapatkan program ini. Mulai proses awal, survey, pelaksanaan pesangan PLTS, hingga hingga edukasi pemeliharaan dari teknisi PHR.

‘’Kami juga bersyukur mendapatkan fasilitas lainya, seperti bantuan komputer, printer dan sarana penerangan. Sehingga bantuan ini sangat berfaedah bagi sekolah dan siswa,’’ lanjutnya.

Dikonfirmasi tentang dampak yang kini bisa dirasakan bagi siswa SLB Melati ini, Kepsek Zaimatul Azma mengatakan pihaknya merasakan manfaat yang sangat luas.

‘’Dari sisi kenyamanan siswa dalam belajar sangat jauh beda. Kini bisa juga menghidupkan AC. Kadang-kadang cuaca panas, dulu hanya pakai kipas, kini sudah bisa pakai AC. Maklumlah anak-anak istimewa ini, kadang semangat belajarnya berubah-ubah. Kami sangat berterima kasih,’’ katanya.

Di SLB Melati ini terdapat sekitar 110 siswa, sedangkan yang aktif setiap hari sekitar 90 siswa. Kebanyakan siswa ketunaan grahita, runggu, autis dan tuna daksa. Guru yang memberikan pengajaran setiap hari berjumlah 15 orang.

Diketahui, PLTS bantuan PHR ini merupakan langkah dan komitmen perusahaan mendukung pendidikan inklusif sekaligus transisi energi bersih di wilayah operasi Zona Rokan.

PLTS berkapasitas 3,7 KWP dengan penyimpanan energi 5 kWh tersebut diperkirakan mampu menghasilkan listrik hingga 4.691 kWh per tahun. 

Energi ini bisa menghemat biaya listrik sekolah sekitar Rp6,8 juta setiap tahun dan meningkatkan kenyamanan belajar bagi lebih dari 100 siswa berkebutuhan khusus. (MNZ/FSY)

 

Laporan : Maisha NZ
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya