- Home
- Pendidikan
- Senyum Bedelau Emeria, Sekolah Disabilitas yang Nikmati Energi Bersih
Laporan Fithriady Syam, Riau
Senyum Bedelau Emeria, Sekolah Disabilitas yang Nikmati Energi Bersih
SLB Melati yang terletak di Jalan Pramuka gg Pandu No 9, Rumbai Pekanbaru ini. semakin nyaman belajar untuk belajar siswa disabilitas, setelah mendapatkan PLTS dari PHR (Dok Dewandik Riau)
Emeria memang siswa istimewa. Sudah mulai beranjak remaja, usianya sekitar 14 th. Dia siswa disabilitas rungu, tapi mudah senyum. Begeliga dan berdelau, seperti dalam ungkapan orang tua-tua Melayu. Caranya berjuang menuntut ilmu, bukan cerita biasa. Emeria tinggal di Panam Pekanbaru, jaraknya sekitar 40 menit berkendara dan harus ditempuh puluhan km dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Melati Rumbai Pekanbaru. Orangtuanya hidup sederhana, hanya pekerja swasta. Tapi hati dan keinginannya kuat untuk bersekolah. 5 tahun sudah belajar bahasa isyarat dengan 100 lebih temannya sesama penyandang disabilitas.
‘’Sekarang sudah mulai bisa mengerti sedikit-sedikit bahasa isyarat. Emeria penyandang tuna rungu. Bisu dan tuli. Dia paling ceria di antara kawan sejawatnya. Kini, dia lebih nyaman tampaknya di ruang belajar,’’ kata Hj Zamiatul Azma SSos, Kepala SLB Melati tatkala ditemui di sekolah yang terletak di Jalan Pramuka gg Pandu No 9, Rumbai Pekanbaru ini.
SLB Melati Makin ‘’Harum’’
H Muhammad Jakfar adalah sosok di balik tumbuh dan berkembangnya SLB Melati. Kisahnya, tahun 1982 dia sudah diterima menjadi calon PNS di sebuah daerah nan jauh. Posisi itu tak diambilnya. Tak tau dapat ilham dari mana, dia mengikuti nasihat dari salah seorang temannya untuk merantau ke Yogyakarta. Masuk Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB). Dua tahun saja, dia kembali lagi ke Riau. Masuk ke Yayasan Caltex. Mengajar siswa yang memiliki kebutuhan khusus.
‘’Sesekali saya dipanggil pihak RS Caltex untuk memberikan terapi bicara kepada anak-anak. Saya pun diberi ruangan kecil untuk praktek,’’ ucapnya mulai bercerita.
Atas kerja-kerja seperti itu, dia berkenalan dengan beberapa bule Amerika di Caltex. Darah muda Jakfar mulai menggelora. Dapat motivasi dan energi tambahan. Dia berkeliling, di sekitar Rumbai ditemui sepetak rumah kayu. Dia memberanikan diri untuk menyewanya setahun. Jadilah kedai itu jadi bilik untuk terapi bicara. Dia pun seakan menjadi ‘’dokter spesialis’’.
Jakfar terus mendapatkan petuah dari bule bermata biru itu. Dia ditantang memunculkan jiwa sosialnya. Untuk mendirikan sekolah suatu saat. Low cost, non formal, non instument.
Tiba-tiba ada peluang untuk mengembangkan ilmu terapi disabilitasnya ke luar negeri. Dia mendapatkan kursus ke Jepang selama 3,5 bulan. Lama-lama dia sadar bahwa mengurusi anak-anak disabilitas ternyata memiliki rezeki tambahan.
‘’Ada uang Rp50 juta dari sisa kursus ke Jepang. Kala itu, uang segitu sudah cukup banyak. Saya memberanikan diri untuk beli sebidang tanah sekitar Rumbai, dan dijadikan sekolah. Targetnya tak muluk-muluk, dapat lima siswa pun jadilah. Sudah itu bisa urus izin sekolah,’’ sebutnya mengenang.
Sejak 2003 hingga saat ini, sekolah ini pun terus berkembang. Hari demi hari, makin ramai anak-anak disabilitas berdatangan, Kini memiliki 110 siswa dan yang aktif mencapai 90 orang. Yayasannya terus tumbuh, berbunga dan mengharumkan nama dan niat mulianya.
Ditanyai seputar profit menjalani SLB ini, Jakfar hanya tersenyum saja. ‘’Ya.. kami masih mengandalkan uang SPP untuk operasional dan gaji guru. Tapi kenyataan tak seperti yang dibayangkan. Kadang ada yang bayar, banyak pula yang tidak. Kita jalani dan lalui aja,’’ kata pria asal Aceh ini.
Rezeki memang tak berpintu. Juni 2025 lalu, dalam sebuah kegiatan internal di sekolah, Jakfar tiba-tiba didatangi oleh tim dari PHR. Mereka menyampaikan niat akan membantu meringankan beban operasional sekolah, terutama dari kebutuhan biaya listrik. Caranya dengan membangun jaringan PLTS di lingkungan sekolah. Ini sekaligus melengkapi 1.200 VA listrik PLN yang ada sebelumnya.
‘’Saya seperti dapat keberuntungan tiba-tiba. Setelah menjalani proses survey, pemasangan instalasi, unit dan edukasi. Tepat 18 Agustus 2025, listrik PLTS pun bisa operasional. Kami rasakan betul manfaatnya. Bisa membantu sekitar 50% biaya listrik bulanan,’’ ucapnya.
PLTS, Komitmen Energi Bersih
Energi bersih bukanlah cerita kedai kopi dan soal slogan belaka. Dia harus diperjuangkan. Pemerintah Indonesia kini terus menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih di kawasan Asia Tenggara.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman, berjanji dengan sungguh-sungguh. Forum Singapore International Energy Week (SIEW) 2025 Summit di Singapura beberapa hari lalu menjadi saksinya.
Laode menyampaikan bahwa arah kebijakan energi nasional Indonesia berlandaskan visi Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita. Visi tersebut menempatkan ketahanan energi dan pengembangan industri hilir sebagai pilar utama transformasi ekonomi nasional.
Jika ditelisik lebih jauh, program Program Community Involvement and Development dan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (CID/PPM) ini punya niat nan tulus. Pastinya sebuah terobosan baru. Tujuannya, memperkenalkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) kepada penyandang disabilitas. Tujuan lainnya atau outcome nya adalah membantu pengurangan biaya operasional sekolah ini.
‘’Ini sesuai dengan visi dan misi dari Pertamina Hulu Rokan yaitu memberikan manfaat dan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,’’ kata Manager Community Involvement and Development (CID) Regional 1 PHR, Iwan Ridwan Faizal kepada media.
Pemilihan SLB Melati Rumbai ditujukan untuk mendukung Social License to Operate (SLO). Letaknya yang hanya 1 Km dari area camp perkantoran Rumbai. Setakat ini, baru SLB ini yang mendapatkan bantuan PLTS dari PHR.
Bantuan paket hemat energi ini berupa pembangkit PLTS berkapasitas 3,7 kWp. Dilengkapi dengan inverter 5kW dan baterai 5kWh. Secara teori, bantuan ini dapat menghasilkan energi sebesar 4.752 kWh/tahun.
‘’Berpotensi menghemat biaya listrik sekitar Rp6.865.647 per tahun. Tidak itu saja, aktifitas ini bisa mereduksi emisi karbon sebesar 3,33 ton CO?eq per tahun,’’ kata Iwan lagi.
Memastikan program ini berjalan secara berkelanjutan, PHR melaksanakan pelatihan pengelolaan dan perawatan system PLTS secara mandiri yang diberi nama Green Warrior. Alih pengetahuan ini, agar para guru dan staf mampu mengelola dan merawat sistem PLTS secara mandiri. Perusahaan pun juga menyerahkan perangkat komputer untuk menunjang aktivitas belajar.
Dalam menjalankan program Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) ini, PHR punya parameter dan indikator tersendiri.
‘’PHR memiliki pedoman dalam mengimplementasikan program CID/PPM sesuai dengan prinsip dan tata nilai perusahaan. Juga perlu ada assessment dan validasi terlebih dahulu sebelum menjalankan program ini. Menjamin program dapat berjalan dengan tepat sasaran,’’ sebutnya lagi.
Melihat kondisi cuaca di Riau yang relatif cukup panas, sangat mendukung PLTS dalam menyerap energi surya untuk diubah menjadi energi listrik. Kondisi geografis ini memberikan peluang bagi perusahaan untuk bisa komitmen mendukung pendidikan inklusif, sekaligus transisi energi bersih di wilayah operasi Zona Rokan.
Ketua Yayasan HM Jakfar pun mengamini rencana itu. “Kami sangat bersyukur atas perhatian dan dukungan PHR. Kehadiran PLTS ini menjadi berkah besar bagi sekolah kami dan akan sangat membantu kelancaran kegiatan belajar mengajar,” ungkapnya.
100-an Siswa Disabilitas, Nikmati Kenyamanan dengan Senyum
Apa yang berubah dengan adanya PLTS ini? Zamiatul Azma, Kepsek SLB Melati mengungkapkan, para siswa lebih terasa nyaman. Lebih nyaman? Apa pasal? Meneroka situasi yang ada, rupanya aktifitas di SLB Melati memunculkan suasana baru.
Kala PHR membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hybrid. Ini membuat kebutuhan listrik sekolah mereka tercukupi. Alhasil, ruangan belajar pun ber-AC.
‘’Lebih terang dan bisa pakai penyejuk ruangan. Jadi tambah senang anak-anak belajar. Apalagi di tempat kita ini, cuaca panas sering terjadi,’’ sambung Kepsek alumni Unilak ini.
Kini ada 100-an lebih siswa ketunaan runggu, autis, tuna daksa yang menikmatinya. Guru yang setia membimbing setiap hari berjumlah 15 orang. Delapan ruang kelas terdiri dari SD dan lima kelas SMP/SMA diterangi dengan cahaya lampu yang baik.
‘’Sebelum ini, para guru sering berupaya hemat listrik. Kami banyak mematikan lampu dan hanya sesekali saja menghidupkan AC. Matikan lampu nak, harus hemat,’’ sebut Zamiatul Azma menirukan perintah para cikgu.
Situasi yang terjadi di SLB Melati ini, mendapat perhatian Dewan Pendidikan (Dewandik) Provinsi Riau. Lembaga yang bernaung di bawah Pemprov Riau, diam-diam mengunjungi sekolah inklusif ini. Guna mendapatkan info yang detail tentang manfaat yang dirasakan.
‘’Bagi kami ini sesuatu yang baru. Sekolah disabilitas ini kadang dipandang sebelah mata. Padahal anak-anak berkebutuhan khusus ini, tak sama dengan anak-anak lainnya. Kami berterima kasih atas dukungan ini. Membantu operasional sekolah, itu sudah pasti. Selain itu ada misi besar lain seperti energi bersih yang menjadi tujuannya,’’ ujar Prof Junaidi, Ketua Dewandik Riau.
Lebih jauh, Rektor Universitas Lancang Kuning ini juga berharap, akan banyak SLB atau satuan pendidikan lainnya yang bisa mendapatkan bantuan ini. Dewandik Riau memang memiliki peran untuk bisa menjembatani sekolah dengan pihak lainnya. Terutama untuk SMA, SMK, dan SLB di rantau Riau ini.
Balik ke pangkal kisah. Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PHR, khususnya inisiatif Pemko Pesmina (Program Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina) yang berfokus pada pendidikan inklusif dan pemanfaatan energi ramah lingkungan di sektor pendidikan.
Melalui program ini, PHR menegaskan komitmen untuk terus mengintegrasikan pemberdayaan sosial, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan di wilayah operasi Zona Rokan. Dan anak-anak disabilitas ini menikmati kondisi terkini dengan senyum nan merekah. Syabas.***
Fithriady Syam, Anggota Dewan Pendidikan Riau, Wartawan Suratkabar Genta, bermastautin di Pekanbaru.








