Provinsi Riau

Ini Sejarah Heroik Sang Nila Utama yang Namanya Diabadikan di Museum Riau

Riau Senin, 15 Desember 2025 - 12:50 WIB  |    Reporter : Muthia NA   Redaktur : Fithriady Syam  
Ini Sejarah Heroik Sang Nila Utama yang Namanya Diabadikan di Museum Riau

Museum Sang Nila Utama memiliki penamaan makna simbolik yang kuat bagi masyarakat Melayu. (Dok Diskominfotik Riau)

RIAU (ruangdisabilitas.com) – Bagi pelajar di Riau tentu sudah mengenal Museum Sang Nila Utama. Museum ini dikelola Dinas Kebudayaan Provinsi Riau dan berlokasi strategis di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. Dia telah lama menjadi rumah bagi warisan sejarah dan budaya Bumi Lancang Kuning. Lalu, siapakah sosok dan bagaimana sejarah  Sang Nila Utama itu?

Museum ini secara konsisten memamerkan berbagai koleksi penting, mulai dari senjata tradisional, fosil purbakala, artefak kuno, hingga koleksi etnografi lainnya yang merefleksikan kekayaan budaya Melayu Riau.

Nama Sang Nila Utama yang diabadikan sebagai identitas museum bukanlah tanpa alasan. Sosok ini merupakan tokoh sentral dalam sejarah dan tradisi lisan Melayu, khususnya yang berkaitan dengan era transisi pasca-runtuhnya kekuasaan besar Sriwijaya. Menurut data historis, Sang Nila Utama diperkirakan hidup pada periode penting sekitar abad ke-13 Masehi, dan dikenal luas sebagai Raja pertama dari Kerajaan Bintan.

Pemilihan nama Sang Nila Utama merupakan pengakuan terhadap kedalaman akar sejarah Melayu di Riau dan Kepulauan Riau. Pada masa lampau, wilayah Riau memang berada dalam pengaruh kuat Kerajaan Sriwijaya yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-7 hingga ke-12. Kerajaan Bintan menjadi salah satu poros penting pasca-kemunduran Sriwijaya.

Setelah Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran masif akibat serangkaian invasi dan faktor internal, banyak bangsawan keturunan Dinasti Sailendra yang berupaya keras untuk menghidupkan kembali kejayaan leluhur mereka. Upaya restorasi budaya dan politik inilah yang melatarbelakangi perjalanan para tokoh penting Melayu kuno untuk mencari wilayah kekuasaan baru.

Salah satu tokoh inisiator dari upaya ini adalah Sang Sapurba. Bersama dengan Mangkubumi Demang Lebar Daun, dan putranya, Sang Nila Utama, Sang Sapurba meninggalkan Palembang. Mereka kemudian berlayar menggunakan perahu tradisional yang disebut lancang atau perahu kuning, yang menjadi simbol kebesaran, menuju kawasan yang saat itu dikenal sebagai Kerajaan Bintan.

Setibanya di Bintan, yang kala itu diperintah oleh Ratu Sri Bintan, rombongan Sang Sapurba disambut dengan upacara meriah di istana. Dalam masa kunjungannya tersebut, takdir mempertemukan Sang Nila Utama dengan putri dari Ratu Sri Bintan, yang bernama Wan Sri Beni. Ketertarikan dan perjodohan pun terjadi hingga Sang Nila Utama meminang Putri Wan Sri Beni.

Pinangan tersebut diterima dan pernikahan agung pun dilangsungkan. Sebagai penanda keberlanjutan dinasti, Sang Sapurba menyerahkan mahkota kerajaan kepada putranya. Dengan restu dan persetujuan penuh dari Ratu Sri Bintan, Sang Nila Utama secara resmi dinobatkan sebagai Raja Bintan. Sang Nila Utama memimpin dengan arif dan bijaksana, menjadikan Kerajaan Bintan sebagai pusat maritim yang vital.

Sementara itu, Kepala UPT Museum Sang Nila Utama, Tengku Leni, menekankan pentingnya peran museum sebagai pusat edukasi sejarah. Ia berharap generasi muda dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah kepemimpinan Sang Nila Utama. 

“Museum bukan sekadar tempat penyimpanan benda lama. Kami ingin masyarakat, terutama anak sekolah, melihat sosok Sang Nila Utama sebagai cerminan integritas dan kearifan lokal yang patut dicontoh. Beliau adalah tokoh yang mempersatukan,” kata Tengku Leni kepada media beberapa hari lalu.

Tengku Leni menambahkan bahwa narasi historis yang disajikan di Museum Sang Nila Utama ini berfungsi sebagai benteng identitas kultural. Pemerintah bersama masyarakat dan pemangku kepentingan wajib melestarikan dan menyebarkan kisah pahlawan lokal seperti Sang Nila Utama.

"Kami terus berupaya memperkaya koleksi dan meningkatkan layanan agar Museum ini menjadi destinasi unggulan dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air dan budaya Melayu,” tutupnya.

Secara politik dan budaya, pengakuan terhadap figur Sang Nila Utama dan Kerajaan Bintan ini memiliki arti yang sangat mendasar bagi Provinsi Riau. Narasi historis ini tidak hanya memperkuat pemahaman akan kedalaman budaya Melayu sebagai fondasi peradaban lokal, tetapi juga menjadi modal utama dalam pelestarian adat, pengembangan pariwisata budaya berbasis sejarah, serta pendidikan sejarah lokal bagi generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Pemandu Museum Sang Nila Utama, Martin Gutari, menyampaikan bahwa penamaan museum ini memiliki makna simbolik yang kuat bagi masyarakat Melayu.

“Nama Sang Nila Utama merepresentasikan asal-usul, nilai kepemimpinan, dan jati diri budaya Melayu. Melalui museum ini, kami berupaya mengenalkan sejarah tersebut kepada generasi muda agar tetap memahami dan mencintai warisan budayanya,” ujarnya. (MNA/MCR)

Laporan : Muthia NA
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya