Meranti, Riau

Kasus Langka Mpox Ditemukan di Riau, Dinas Kesehatan Imbau Masyarakat Waspada

Info Kesehatan Selasa, 23 September 2025 - 19:40 WIB  |    Reporter : Muthia NA   Redaktur : Fithriady Syam  
Kasus Langka Mpox Ditemukan di Riau, Dinas Kesehatan Imbau Masyarakat Waspada

Diskes mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, namun meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. (Internet)

MERANTI (ruangdisabilitas.com) - Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti mengumumkan adanya temuan dua kasus suspek atau diduga penyakit Monkeypox (Mpox). Warga diminta tenang dan selalu waspada.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, penemuan dua kasus diduga Mpox ini pada tanggal 17 dan 18 September 2025.

Menurut Ade, kedua kasus tersebut menunjukkan gejala yang sesuai dengan definisi suspek MPOX berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan RI. Dari dua kasus itu, satu pasien yang sempat menjalani perawatan di UPT RSUD Meranti meninggal dunia pada 20 September 2025, setelah empat hari dirawat. 

Sementara satu pasien lainnya saat ini tengah menjalani isolasi mandiri di rumah, setelah sebelumnya tiga hari dirawat di RSUD, dan masih dalam pemantauan tenaga kesehatan dari UPT Puskesmas.

"Saat ini kedua sampel kasus suspek MPOX sedang dalam proses pemeriksaan laboratorium. Kami terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait," ujar Ade Suhartian.

Ia menjelaskan, Mpox adalah penyakit infeksi zoonotik yang disebabkan oleh virus Monkeypox (MPXV). Gejalanya antara lain demam, ruam kulit (papula, vesikula, pustula), pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati), nyeri otot, sakit kepala, dan rasa lemas. 

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan lesi kulit, cairan tubuh, droplet pernapasan, maupun benda yang terkontaminasi.

Dalam kesempatan itu, Ade Suhartian juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, namun meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

"Kami mengingatkan masyarakat agar menghindari kontak kulit-ke-kulit dengan orang yang memiliki gejala, termasuk kontak seksual, rajin mencuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer, membersihkan permukaan atau benda yang sering disentuh, menggunakan masker, serta menerapkan etika batuk," jelasnya.

Selain itu, Ade menekankan agar masyarakat segera melakukan isolasi mandiri dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mirip Monkeypox.

"Kami minta masyarakat tetap waspada, namun jangan panik. Dinas Kesehatan bersama fasilitas kesehatan terus bekerja melakukan pengawasan dan penanganan. Sekali lagi kami pastikan, bahwa ini baru suspek belum dipastikan hingga hasil laboratorium keluar," pungkasnya.

Sampel Dikirim ke Jakarta

Dinas Kesehatan Provinsi Riau hingga saat ini masih menunggu hasil laboratorium, terhadap warga asal Kabupaten Kepulauan Meranti yang sebelumnya dinyatakan suspek cacar monyet.

Karena itu, pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah penyebab kematian warga Meranti tersebut akibat cacar monyet atau tidak.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Riau Dewi Touw mengatakan, setelah ditemukannya Kasus suspek cacar monyet tersebut. Pihaknya langsung melakukan pengambilan sampel kepada pasien bersangkutan untuk diteliti.

"Sampel pasien suspek cacar monyet sudah diambil dan dikirim ke laboratorium Kementerian Kesehatan di Jakarta," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, namun hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan hasil pemeriksaan sampel tersebut. Sehingga pihaknya juga belum dapat menyimpulkan apakah pasien memang terpapar cacar monyet atau tidak.

"Karena hasilnya belum keluar, belum bisa didiagnosa pasti," jelasnya.

Dijelaskannya, sebelumnya di Riau juga pernah ditemukan Kasus suspek cacar monyet tepatnya di kota Pekanbaru. Namun setelah diteliti, ternyata bukan merupakan penyakit cacar monyet.

"Dulu pernah ada suspek cacar monyet di Pekanbaru, tapi hasilnya negatif. Karena itu hingga saat ini belum pernah ada ditemukan kasus cacar monyet di Riau," ujarnya. (FSY/SP)

Laporan : Muthia NA
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya