MENGAJI TANPA MELIHAT, MENGINSPIRASI LEWAT SUARA

Ahmad Musaddad, Hafiz Tuna Netra yang Harumkan Nama Jember di MTQ Jatim

Pendidikan Senin, 22 September 2025 - 21:21 WIB  |    Reporter : Maisha NZ   Redaktur : Fithriady Syam  
Ahmad Musaddad, Hafiz Tuna Netra yang Harumkan Nama Jember di MTQ Jatim

Musaddad, finalis lomba MTQ Jatim digandeng sang ayah usai masuk babak final di Pesantren Al Qodiri Jember. (Foto Istimewa)

JEMBER (ruangdisabilitas.com) – Suara pria tuna netra itu mengalunkan ayat-ayat suci di panggung lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), melengking namun tenang dan sungguh merdu. Ia adalah Ahmad Musaddad, seorang tuna netra yang mewakili Kabupaten Jember dalam ajang MTQ tingkat Jawa Timur yang digelar di Pesantren Al-Qodiri Jember, sejak 13 hingga 19 September 2025.

“Alhamdulillah saya bisa mewakili Jember, tapi saya selalu yakin siapa yang bersungguh-sungguh pasti ada hasilnya,” tuturnya, dikutip Kompas.

Musaddad bahkan tak menyangka bahwa Surat Adz-Dzariyat yang dilantunkannya pada babak semi final membawanya meraih peringkat ketiga. Sosok istimewa ini selalu didampingi oleh sang ayah yang menggandeng dan menuntunnya setiap kali naik ke panggung di hadapan dewan hakim.

Belajar Tilawah Sejak Remaja

Pria berusia 25 tahun itu telah bergumul dengan Al-Qur'an sejak kecil. Saat usianya menginjak 14 tahun, keinginan kuat untuk belajar tilawah membawanya berguru kepada Ustaz Rofiqi. Setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Musaddad tidak melanjutkan ke sekolah formal.

Ia memilih memperdalam ilmu agama di Pesantren Fatihul Ulum Al Mahfudz, Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul. “Biasanya ustaz dulu yang bacakan lalu saya menirukan,” ungkapnya menjelaskan metode belajarnya.

Setiap hari, Musaddad tak pernah absen membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dengan tilawah. Suaranya khas dan menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Hafal 30 Juz Berkat MP3 Al-Qur’an

Meski memiliki keterbatasan penglihatan, semangat Musaddad untuk mempelajari Al-Qur’an tak pernah luntur. Saat usianya 17 tahun, ia pindah ke Pesantren Roudhotu Tahfidzil Qur'an (PPRTQ) di Kecamatan Semboro, Jember, dan di sanalah ia menemukan metode belajar unik: menghafal Al-Qur’an melalui MP3.

“Jujur untuk huruf saya gak mengetahui, tapi saya mengikuti apa yang dibaca dalam MP3. Kalau salah baca saat setoran, ya ditegur ustaz,” ujar Musaddad yang berasal dari Desa Patemon, Kecamatan Tanggul.

Pesantren tempatnya belajar tidak memiliki fasilitas khusus untuk disabilitas, termasuk Al-Qur’an braille. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya.

“Tapi seandainya ada Al-Qur'an braille lebih enak. Semoga ada bantuan dari pemerintah,” harapnya.

Sejak 2023, Musaddad telah menghafal 30 juz Al-Qur’an, menjadikannya seorang hafiz. Kini, Musaddad tidak lagi menetap di pesantren. Ia mengajar mengaji anak-anak di TPQ Desa Patemon.

Meski tidak setiap hari, ia kerap menerima undangan tilawah dalam berbagai acara, seperti khotmil Qur'an, pernikahan, imtihan, dan khataman. Dari aktivitas ini, Musaddad mampu mandiri secara finansial.

Dukungan dan Bangga Sang Ayah

Ali Said, ayah kandung Musaddad, tak kuasa menyembunyikan kebanggaannya.

“Tapi tau ada bakat tilawah itu ketika dia di pondok,” ujar pria yang juga ayah dari tiga anak itu.

Sejak kecil, Musaddad telah mengalami gangguan penglihatan. Namun, orang tuanya tetap membekalinya dengan hafalan Al-Qur’an sebagai pondasi utama dalam pendidikan agama. (MNZ/SP)

Laporan : Maisha NZ
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya