Provinsi Riau

Pemprov Riau dan Komdigi Awasi Keamanan Data dan Perlindungan Anak

Riau Kamis, 12 Maret 2026 - 13:49 WIB  |    Reporter : Maisha NZ   Redaktur : Fithriady Syam  
Pemprov Riau dan Komdigi Awasi Keamanan Data dan Perlindungan Anak

Orang tua perlu mengenali aktivitas digital anak-anak, membuat aturan penggunaan perangkat di rumah, mendampingi anak-anak saat mengakses internet, dan mengajarkan etika dan keamanan digital. (Dok Diskominfotik Riau)

RIAU (ruangdisabilitas.com) - Pemerintah Provinsi Riau terus memperkuat literasi digital di kalangan AGEN PNS (ASN) sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan transformasi digital sekaligus meningkatkan keamanan di dunia maya.

Melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dan Kantor Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik), Pemerintah Provinsi Riau berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia untuk menyelenggarakan serangkaian pelatihan dan webinar literasi digital bagi ASN.

Salah satu kegiatan tersebut adalah Pelatihan Jarak Jauh (PJJ) bertema "ASN Aman di Ruang Digital: Melindungi Data, Diri, dan Generasi Penerus Bangsa" yang dilaksanakan pada hari Rabu (11/3/2026).

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi dan keamanan digital ASN, khususnya bagi ASN yang memiliki anak, agar mampu melindungi keluarga dari berbagai risiko di ruang digital.

Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah tampilan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pemeliharaan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, atau dikenal juga sebagai PP Tunas. Peraturan ini bertujuan untuk melindungi anak-anak di bawah usia 16 tahun dari berbagai risiko di dunia digital, seperti tampilan konten pornografi, perundungan siber , dan eksploitasi data pribadi. Selain itu, peraturan ini juga menekankan tanggung jawab platform digital serta pentingnya pengawasan orang tua dalam aktivitas anak di internet.

Kepala BPSDM Provinsi Riau, Eva Refita, menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia atas kerja sama mereka dalam pelaksanaan pelatihan tersebut.

"Meskipun jumlah peserta dibatasi hanya 150 orang, masih banyak pegawai negeri sipil yang ingin mendaftar dan mengikuti pelatihan ini karena temanya sangat relevan dengan kondisi saat ini," katanya.

Pembicara pelatihan, Suta Pranawijaya, menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung aktivitas digital anak-anak. Menurutnya, orang tua perlu mengenali aktivitas digital anak-anak, membuat aturan penggunaan perangkat di rumah, mendampingi anak-anak saat mengakses internet, dan mengajarkan etika dan keamanan digital.

"Orang tua juga perlu berdiskusi dengan anak-anak mereka tentang konten yang mereka lihat di internet dan mengajari mereka untuk berpikir kritis tentang informasi digital," katanya.

Selain pelatihan, Dinas Diskominformatika Provinsi Riau bersama RI Komdigi juga menyelenggarakan webinar literasi digital untuk ASN pada hari Rabu lalu. Kegiatan daring ini diikuti oleh lebih dari 300 peserta dan bertujuan untuk membekali ASN dengan keterampilan digital yang komprehensif di tengah perkembangan teknologi yang pesat.

Kepala Diskomininfotik Provinsi Riau, Supriyadi, mengatakan bahwa ASN memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi contoh dalam penggunaan teknologi secara positif. Menurutnya, literasi digital merupakan kebutuhan mendasar di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber.

"ASN harus mampu beradaptasi dan menjaga integritas diri dan institusi di ruang digital. Pelatihan ini merupakan langkah nyata untuk memastikan setiap petugas memiliki pertahanan yang kuat terhadap risiko siber yang ada," kata Supriyadi.

Dalam kegiatan tersebut, narasumber Tiara Mulia Putri mempresentasikan kerangka kerja CABE (Speak, Safe, Culture, Ethics) sebagai landasan untuk membangun masyarakat digital yang produktif. Kerangka kerja ini menekankan pentingnya kemampuan teknis, kesadaran akan keamanan digital, kemampuan berpikir kritis terhadap informasi, serta penerapan etika dalam berkomunikasi di ruang digital.

Tiara juga menyoroti pentingnya perlindungan data pribadi di era digital. Ia mengingatkan bahwa kebocoran data sering terjadi akibat kelalaian pengguna dalam menjaga keamanan informasi.

"Kebocoran data pribadi sering kali berawal dari kelalaian pengguna. Oleh karena itu, peserta diajarkan langkah-langkah praktis mulai dari pengelolaan kata sandi yang kuat hingga mengenali karakteristik penipuan digital yang semakin canggih."

Melalui berbagai kegiatan literasi digital ini, Pemerintah Provinsi Riau berharap seluruh ASN (Asosiasi Pengguna Narkoba) lebih siap menghadapi tantangan transformasi digital dengan tetap memprioritaskan keamanan, etika, dan perlindungan data pribadi. Selain itu, ASN juga diharapkan menjadi agen pendidikan di keluarga dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan bijak. (MNZ/MCR)

Laporan : Maisha NZ
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya