Temanggung
Rumah Terapi Gratis Bagi ABK dan Disabilitas Diresmikan Pemkab Temanggung
Bupati Temanggung resmi meluncurkan “Rumah Terapi Tanda Cinta” bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dan penyandang disabilitas di Kantor Dinas Sosial, Senin (6/4/2026). (WH/DiskomdigiJtg)
TEMANGGUNG (ruangdisabilitas.com) – Satu lagi kepedulian nyata. Pemerintah Kabupaten Temanggung resmi meluncurkan “Rumah Terapi Tanda Cinta” bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dan penyandang disabilitas di Kantor Dinas Sosial, Senin (6/4/2026).
Kehadiran fasilitas ini menjadi jawaban atas aspirasi masyarakat yang selama ini terkendala akses layanan terapi akibat berbagai keterbatasan administratif.
Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menjelaskan, gagasan pendirian rumah terapi tersebut berawal dari keluhan warga terkait pembatasan layanan BPJS di rumah sakit, khususnya batas usia maksimal tujuh tahun.
Selain itu, terdapat kendala persyaratan ekonomi, seperti kategori desil 1 hingga 5 pada layanan di Sentra Terpadu Kartini Kementerian Sosial RI.
“Alhamdulillah, ini kerja bareng dari berbagai elemen untuk merealisasikan Rumah Terapi. Ini sebagai bentuk tanda cinta Temanggung kepada bapak, ibu semua. Bukan dari saya, tapi dari kita semua,” ujar bupati yang akrab disapa Agus Gondrong.
Rumah terapi ini menyediakan tiga layanan utama secara gratis, yakni fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara. Dalam operasionalnya, Dinas Kesehatan menerjunkan 25 tenaga dari puskesmas secara bergiliran, didukung tenaga ahli dari RSUD Temanggung dan Sentra Terpadu Kartini.
Selain pelayanan medis, fasilitas ini juga menekankan aspek transfer pengetahuan kepada orang tua. Tujuannya agar orang tua, yang sebagian besar tergabung dalam komunitas Rumah Anak Spesial (Ruas) Temanggung, mampu melakukan pendampingan terapi secara mandiri di rumah.
“Harapannya, orang tua ketika di rumah bisa selalu telaten mendampingi. Karena kunci perkembangan anak ada pada orang tua yang mendampingi setiap waktu,” imbuh Agus.
Hal senada disampaikan Kepala Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Nova Dwiyanto Suli. Ia menyatakan komitmen pihaknya dalam melatih sumber daya manusia serta orang tua/wali guna memastikan keberlanjutan program tersebut.
“Harapannya, mereka bisa melakukan terapi secara mandiri kepada komunitasnya sendiri,” sebutnya. (MNZ/ARY).








